Apabila cinta memberi
isyarat kepadamu, ikutilah dia
walau jalannya sukar
dan curam.
Dan apabila sayapnya
memelukmu, menyerahlah kepadanya
walau pedang
tersembunyi di antara ujung-ujung
sayapnya bisa
melukaimu.
Dan kalau dia berbicara
kepadamu, percayalah kepadanya.
Adalah ketika kamu
menitikkan air mata
dan masih peduli
terhadapnya….
Adalah ketika dia
tidak memedulikanmu
dan kamu masih
menunggunya dengan setia…
penggalan tulisan itu merupakan bait goresan dari pujangga
Kahlil Gibran yang saya dapatkan di cover belakang buku “Doa-Doa untuk
Pengantin Sakinah di Dunia Bahagia di Akhirat” karya Sita Simpati. Buku bacaan
itu saya beli 1 bulan sebelum pernikahan saya dan aa. Saat berada di Toko Buku
Gramedia (Lampung) waktu itu saya yang biasanya menyukai buku-buku novel justru
tertarik dengan buku karya Sita Simpati tersebut, maklumlah sebab saya berfikir
bahwa waktu itu akan menjadi manten, hehehe…
Bukunya punya cover yang bagus, bunga sakura. Lucu. Saya tertarik
sekali melihat judul pun ditambah covernya, quote don’t judge book from the cover agaknya tidak berlaku saat itu bagi saya, hehehe. Saya sudah menamatkan
bacaannya, saya tidak melakukanya secara marathon. Saya membacanya ber tahap dan
sedikit terputus, saya membaca tepat 1 hari sebelum pernikahan,sebab saya baru
saja mendapatkan sedikit waktu senggang untuk santai membaca setelah resign dari perusahaan tempat saya bekerja. Pada bab-bab yang saya baca isinya
membuat saya paham tentang makna pernikahan dan kenapa harus menikah. Menikah adalah
jalan pembuka pintu surga. Subhannaullah, saya mengutip dari halaman 17 buku
tersebut: Rasulullah Saw. Menyebut ketaatan kepada suami sebagai salah satu
cara terbaik meraih surga setelah ketaatan kepada Allah.
“Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan
(Ramadhan), menjaga kesuciannya, dan taat kepada suaminya, dikatakan kepadanya, ‘Masuklah engkau ke dalamsurga dari
pintu mana saja yang engkau sukai.” (HR.Ahmad dan At-Thabrani)
Ketika saya membacanya, tertegun sudah pasti, ada perasaan
takjub disana. Allah Maha Besar. Sebagai seorang istri, kelak saya harus patuh
terhadap suami, selama suami menuntun saya ke jalan yang benar. Saya kemudian
menjadi bertekad demikian, agar surga tidak jauh dari saya. Godaan itu pasti datang,
namun itu tergantung dari kuatnya keimanan kita.
Kemudian, karena aktifitas saya yang sibuk saat hari H, saya
baru melanjutkan membaca di 3 hari sesudah menikah. Saya melanjutkan bacaan di
bab-bab yang tengah hingga bab akhir yang berisi lantunan doa untuk pengantin, dan saya benar-benar menamatkan baca-nya saat itu juga. Buku itu merupakan bacaan yang
membuat iman kita Insha Allah bertambah dan lebih mantap buat menikah. Saya recommend buku bacaan ini buat blogger yang ingin segera menghadapi pernikahan atau yang sudah menikah.
Allah Maha Baik, Allah menganugerahkan aa yang sangat sabar
menghadapi saya. Saya ini tipekal wanita yang jauh dari sempurna, namun suami
tetap menerima saya apa adanya. Cobaan, kerikil kecil tentu saja ada, apalagi
sebuah tangisan atau kesedihan…pasti menghiasi 1,5 bulan pijar nyala pernikahan
kami berdua. Sabar…sabar kuncinya, sabar nya suami harus lebih besar terhadap
perilaku istri yang sering kekanak-kanakan.
Pagi ini, dari semalam kami berdebat mengenai rencana tugas
ke Kediri (lagi) yang memang rencananya saya agak bimbang memutuskan untuk ikut atau tidak. Dan seusai sahur saya memandang lekat wajah suami, dia adalah
pria yang bersedia menikahi saya dengan segala kekurangan serta rahasia-rahasia
saya, pria yang tidak mencoba mencungkil masa lalu saya, pria yang mengikat
janji suci dihadapan Tuhan, pria yang membuat saya menangis dan tertawa..dia
yang merupakan belahan jiwa…sungguh saya bahagia memilikinya. Tawaran itu akan
saya jawab: “Aku bersedia hari ini berangkat lagi ke Kediri, walaupun tinggal
di kontrakan petani, enggak di hotel ya ndak papa, yang penting bisa disamping
kamu…” Saya segera packing, dan aa memeluk saya begitu erat…sepertinya
hatinya merekah bagai bunga sakura di cover Buku itu, saya berterimakasih pada
Allah…atas nikmat ini, sekali lagi saya mengabari hati bahwa Surga itu dekat, sedekat dekapan aa.
Hari ini saya memilih, luka lama pada tanggal 22 yang
menanti itu saya tinggalkan. Toh jika saya sejajarkan, sang luka lama tetap
akan memilih wanita yang berpuluh tahun telah hidup bersamanya, dan bukan bunga
yang baru merekah seperti saya (renungan)







