Kamis, 18 Juli 2013

Mencintai itu Keputusan (oleh M.Anis Matta, Lc.) (tulisan yang saya dapatkan melalui kiriman e-mail dari seseorang yang hangat dan keren)

Saya pernah mendapatkan sebuah e-mail, dan membuat saya terpaku untuk waktu yang lama. Kemudian pada musim ini, awalnya saya berniat membuka e-mail untuk mengecek e-mail masuk sembari merapihkan (men-delete beberapa message yang tidak penting) pada akhirnya justru lebih banyak melamun sambil terus berulang membaca tulisan-tulisan indah dari e-mail itu. Saya banyak mendapatkan beberapa tulisan-tulisan yang bagus dari beberapa sahabat sosial media.

Tulisan dari e-mail itu akan saya share untuk blogger, sungguh bagus…sampai kapanpun saya akan selalu mengingat dan berterimakasih kepada sang pengirim. Keren! Walaupun saya juga tau bahwa dia pun hanya mengutip dari tulisan M. Anis Matta, Lc. dan tetap saja semua yang dia lakukan pada saya selalu keren. Alhasil, e-mail itu terus bertahan di inbox saya serta menjadi salah satu favorite, saya berharap sang pengirim e-mail dalam keadaan sehat saat ini, itu jauh lebih dari bahagia. Amiin.

Mencintai itu Keputusan
Oleh M. Anis Matta, Lc.

Lelaki tua menjelang 80-an itu menatap istrinya.
Lekat-lekat..
Nanar..
Gadis itu masih terlalu belia.
Baru saja mekar.

Ini bukan persekutuan yang mudah.
Tapi ia sudah memutuskan untuk mencintainya.
Sebentar kemudian ia pun berkata, ”Kamu kaget melihat semua ubanku?
Percayalah!  Hanya kebaikan yang akan kamu temui di sini.”
Itulah kalimat pertama Utsman bin Affan ketika menyambut istri terakhirnya dari Syam, Naila.
Selanjutnya adalah bukti cinta..

Sebab cinta adalah kata lain dari memberi…
sebab memberi adalah pekerjaan…
sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan,
menumbuhkan, merawat dan melindungi itu berat…
sebab pekerjaan berat itu harus ditunaikan dalam waktu yang lama.

Begitu hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian kuat dan tangguh…
maka hendaklah setiap orang berhati hati saat ia mengatakan, “Aku mencintaimu.”
Kepada siapapun..

Sebab itu adalah keputusan besar.
Ada taruhan kepribadian di situ.

“Aku mencintaimu,” adalah ungkapan lain dari, “Aku ingin memberimu sesuatu.”
Yang terakhir ini adalah juga ungkapan lain dari,
“Aku akan memperhatikan dirimu dan semua situasimu
untuk mengetahui apa yang kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia…

Aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi dirimu agar bisa tumbuh semaksimal mungkin…
Aku akan merawat dengan segenap kasih sayangku proses pertumbuhan dirimu
dalam kebaikan harian yang akan kulakukan padamu…

Aku juga akan melindungi dirimu dari segala sesuatu
yang dapat merusak dirimu dan proses pertumbuhan itu…”
Taruhannya adalah kepercayaan orang yang kita cintai terhadap integritas kepribadian kita.

Sekali kamu mengatakan pada seseorang, “Aku mencintaimu,”
kamu harus membuktikan ucapan itu.

Itu adalah deklarasi jiwa..
bukan saja tentang rasa suka dan ketertarikan,
tapi terutama tentang kesiapan yang kemampuan memberi,
kesiapan dan kemampuan berkorban,
kesiapan dan kemampuan melakukan pekerjaan-pekerjaan cinta:
memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi.

Sekali deklarasi itu tidak terbukti, kepercayaan hilang lenyap.
Tidak ada cinta tanpa kepercayaan.

Begitulah bersama berlalunya waktu..
suami atau istri kehilangan kepercayaan kepada pasangannya.
Atau anak kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya.
Atau sahabat kehilangan kepercayaan kepada kawannya.
Atau rakyat kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya.

Semua dalam satu situasi: cinta yang tidak terbukti.
Ini yang menjelaskan mengapa cinta yang begitu panas di awal hubungan
lantas jadi redup dan padam pada tahun kedua, ketiga, keempat dan seterusnya.

Dan tiba-tiba saja perkawinan bubar,
persahabatan berakhir,
keluarga berantakan,
satu pemimpin jatuh karena tidak dipercaya rakyatnya.

Jalan hidup kita biasanya tidak linear.
Tidak juga seterusnya pendakian. Atau penurunan.
Karena itu konteks dimana pekerjaan-pekerjaan cinta dilakukan tidak selalu kondusif secara emosional.

Tapi disitulah tantangannya: membuktikan ketulusan di tengah situasi-situasi yang sulit.
Di situlah konsistensi teruji.
Disitu juga integritas terbukti.
Sebab mereka yang bisa mengejawantahkan cinta di tengah situasi yang sulit,
jauh lebih bisa membuktikannya dalam situasi yang longgar.

Mereka yang dicintai dengan cara begitu, biasanya merasakan bahwa hati dan jiwanya penuh seluruh.
Bahagia sebahagia-bahagianya.
Puas sepuas-puasnya.
Sampai tidak ada lagi tempat bagi yang lain.
bahkan setelah sang pencinta mati.

Begitulah Naila.
Utsman bin Affan telah memenuhi seluruh jiwanya dengan cinta.
Maka ia memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah suaminya terbunuh.
Ia bahkan menutupi wajahnya untuk menolak semua pelamarnya.
Tak ada yang dapat mencintai sehebat lelaki tua itu.


*************

Tidak ada komentar:

Posting Komentar