Saya pernah mendapatkan sebuah
e-mail, dan membuat saya terpaku untuk waktu yang lama. Kemudian pada musim ini, awalnya saya berniat membuka e-mail untuk mengecek e-mail masuk sembari merapihkan (men-delete beberapa message yang
tidak penting) pada akhirnya justru lebih banyak melamun sambil terus berulang
membaca tulisan-tulisan indah dari e-mail itu. Saya banyak mendapatkan beberapa tulisan-tulisan yang bagus dari beberapa sahabat sosial media.
Tulisan dari e-mail itu akan saya
share untuk blogger, sungguh bagus…sampai kapanpun saya akan selalu mengingat
dan berterimakasih kepada sang pengirim. Keren! Walaupun saya juga tau
bahwa dia pun hanya mengutip dari tulisan M. Anis Matta, Lc. dan tetap saja semua
yang dia lakukan pada saya selalu keren. Alhasil, e-mail itu terus bertahan di
inbox saya serta menjadi salah satu favorite, saya berharap sang pengirim
e-mail dalam keadaan sehat saat ini, itu jauh lebih dari bahagia. Amiin.
Mencintai itu Keputusan
Oleh M. Anis Matta, Lc.
Lelaki tua menjelang 80-an itu menatap istrinya.
Oleh M. Anis Matta, Lc.
Lelaki tua menjelang 80-an itu menatap istrinya.
Lekat-lekat..
Nanar..
Gadis
itu masih terlalu belia.
Baru
saja mekar.
Ini
bukan persekutuan yang mudah.
Tapi
ia sudah memutuskan untuk mencintainya.
Sebentar
kemudian ia pun berkata, ”Kamu
kaget melihat semua ubanku?
Percayalah! Hanya
kebaikan yang akan kamu temui di sini.”
Itulah
kalimat pertama Utsman bin Affan ketika menyambut istri terakhirnya dari Syam,
Naila.
Selanjutnya
adalah bukti cinta..
Sebab cinta adalah kata lain dari memberi…
Sebab cinta adalah kata lain dari memberi…
sebab
memberi adalah pekerjaan…
sebab
pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan,
menumbuhkan,
merawat dan melindungi itu berat…
sebab
pekerjaan berat itu harus ditunaikan dalam waktu yang lama.
Begitu
hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian kuat dan tangguh…
maka
hendaklah setiap orang berhati hati saat ia mengatakan, “Aku mencintaimu.”
Kepada
siapapun..
Sebab itu adalah keputusan besar.
Sebab itu adalah keputusan besar.
Ada
taruhan kepribadian di situ.
“Aku
mencintaimu,” adalah ungkapan lain dari, “Aku ingin memberimu sesuatu.”
Yang
terakhir ini adalah juga ungkapan lain dari,
“Aku
akan memperhatikan dirimu dan semua situasimu
untuk
mengetahui apa yang kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia…
Aku
akan bekerja keras untuk memfasilitasi dirimu agar bisa tumbuh semaksimal
mungkin…
Aku
akan merawat dengan segenap kasih sayangku proses pertumbuhan dirimu
dalam
kebaikan harian yang akan kulakukan padamu…
Aku
juga akan melindungi dirimu dari segala sesuatu
yang
dapat merusak dirimu dan proses pertumbuhan itu…”
Taruhannya
adalah kepercayaan orang yang kita cintai terhadap integritas kepribadian kita.
Sekali
kamu mengatakan pada seseorang, “Aku mencintaimu,”
kamu
harus membuktikan ucapan itu.
Itu
adalah deklarasi jiwa..
bukan
saja tentang rasa suka dan ketertarikan,
tapi
terutama tentang kesiapan yang kemampuan memberi,
kesiapan
dan kemampuan berkorban,
kesiapan dan kemampuan melakukan pekerjaan-pekerjaan cinta:
kesiapan dan kemampuan melakukan pekerjaan-pekerjaan cinta:
memperhatikan,
menumbuhkan, merawat dan melindungi.
Sekali deklarasi itu tidak terbukti, kepercayaan hilang lenyap.
Sekali deklarasi itu tidak terbukti, kepercayaan hilang lenyap.
Tidak
ada cinta tanpa kepercayaan.
Begitulah
bersama berlalunya waktu..
suami
atau istri kehilangan kepercayaan kepada pasangannya.
Atau
anak kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya.
Atau
sahabat kehilangan kepercayaan kepada
kawannya.
Atau
rakyat kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya.
Semua
dalam satu situasi: cinta yang tidak terbukti.
Ini
yang menjelaskan mengapa cinta yang begitu panas di awal
hubungan
lantas
jadi redup dan padam pada tahun kedua, ketiga, keempat dan seterusnya.
Dan
tiba-tiba saja perkawinan bubar,
persahabatan
berakhir,
keluarga
berantakan,
satu
pemimpin jatuh karena tidak dipercaya rakyatnya.
Jalan hidup kita biasanya tidak linear.
Jalan hidup kita biasanya tidak linear.
Tidak
juga seterusnya pendakian. Atau penurunan.
Karena
itu konteks dimana pekerjaan-pekerjaan cinta dilakukan tidak selalu kondusif
secara emosional.
Tapi
disitulah tantangannya: membuktikan ketulusan di tengah situasi-situasi yang
sulit.
Di situlah
konsistensi teruji.
Disitu
juga integritas terbukti.
Sebab
mereka yang bisa mengejawantahkan cinta di tengah situasi yang sulit,
jauh
lebih bisa membuktikannya dalam situasi yang longgar.
Mereka yang dicintai dengan cara begitu, biasanya merasakan bahwa hati dan jiwanya penuh seluruh.
Mereka yang dicintai dengan cara begitu, biasanya merasakan bahwa hati dan jiwanya penuh seluruh.
Bahagia
sebahagia-bahagianya.
Puas
sepuas-puasnya.
Sampai
tidak ada lagi tempat bagi yang lain.
bahkan
setelah sang pencinta mati.
Begitulah
Naila.
Utsman
bin Affan telah memenuhi seluruh jiwanya dengan cinta.
Maka
ia memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah suaminya terbunuh.
Ia
bahkan menutupi wajahnya untuk menolak semua pelamarnya.
Tak
ada yang dapat mencintai sehebat lelaki tua itu.
*************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar