suara percakapan telepon: "sudah ya, aku sudah dijemput..bye.."
KLIK..telepon itu dimatikan, belum sempat aku berbalas.
Kepada birunya langit...
Tidak pernah terfikiran sampai kapan kamu berwarna biru..
Atas apa-apa yang aku perbuat dahulu..aku minta maaf..
Kenapa saat ini kamu menjadi begitu biru...
Aku hanya semut yang mendongak pada langit..
Kamu luas..kamu biru..kamu terhampar…sekali lagi..kamu
kuasa..
Lalu aku? Izinkan aku sedikit saja bisa memandangmu wahai
langit biru..
Kepada birunya langit..
Tidak pernah terfikirkan sampai kapan kamu meneduhkanku..
Atas apa-apa yang kamu perbuat justru selayaknya membuat aku
takut..
Aku takut lukamu makin pilu…makin susah untuk mengering dan sembuh..
Sama seperti lukaku…aku biarkan saja ia menganga lalu kering
seadanya...kubiarkan lukaku itu..
Jangan lakukan itu…aku mohon kembalilah pada logikamu…kembalilah sayangku...
Kepada birunya langit..
Tidak pernah terfikirkan sampai kapan kamu berada diatas
situ..
Atas apa-apa yang kamu usahakan adalah hal yang sepatutnya
tidak perlu..
Aku janji bahkan sebelum kau memulai segala cerita ini, aku
tetap tidak akan pernah bisa melupakanmu..
Sebab aku selalu butuh langit dan kamu tidak akan butuh
aku..
Sebab kamu sudah biru dan begitu luas…sudah sebegitu
bahagia..
Sedangkan aku tetap akan semut kecil…yang menengadah
padamu..berharap kau biru..jangan hitam apalagi kelabu, jika itu terjadi, maka
semut ini akan terus dibawah tanah..menggali rumah untuk bersembunyi...
Sebab aku selalu butuh langit biru.. (19 Juli 2013/15:07)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar