Pagi ini saya dikejutkan...ah!!!benar-benar....saya ingin menulis semua kalimat yang benar-benar..benar-benar ada di dalam fikiran:
Waktu
ini, mungkin sudah diluar akal sehat…menerima kabar seburuk rupa..
Aku
sungguh kaget luar biasa…
Seperti
berjalan gontai bukan sekedar anemia..
Entah
harus bagaimana..harus apa…
Sedari
dulu aku juga sudah tahu, bahwa iya sering berfikir dengan logikanya..
Sedari
dulu aku selalu mencoba paham, bahwa iya lebih senang mengasah akal sehatnya..
Sedari
dulu aku mengerti, iya tak kenal akan namanya sesuatu yang bersifat kebetulan
semata..
Aku
bertemu karena takdir..
Aku berpisah
juga karena takdir..
Lalu
takdir dan usaha? Ada korelasinya antara takdir itu, aku selalu berusaha juga
berdoa agar takdir mempertemukan kita untuk ke-sekian kalinya..
Waktu
itu, bahagia meluap-luap seakan ingin meledak di dalam dadaku..
Aku
pernah bertanya, apa kau percaya takdir?
Iya
menjawab: “tidak..aku percaya usaha”
Mendengar
hal itu aku sungguh kesal dibuatnya…
Tidak
ada yang lebih bisa dipercaya selain Takdir yang telah Tuhan berikan pada
kita..
Kita
bisa mengubah caranya..mengubah jalan dan proses untuk menghindari atau justru
menggapai takdir tersebut…namun bukan takdir atau ketentuannya…
Semua
takdir itu sudah dituliskan dari sang-Pencipta… Allah Pemilik bumi segala
isinya…
Lalu iya
berkata: “aku bukan religius”
Percayalah…suatu
saat kau merasakan antara takdir-usaha-religius itu akan bersatu..
Aku
sungguh lebih kaget luar biasa…
Cemas
sudah meraup seluruh gambaran air muka..
Berharap
fikiranku ini salah dan logika yang menjadi benar..
Iya tak
mungkin melakukan hal itu..
Iya tak
mesti melakukan hal ini..
Iya tak
seharusnya membuat ini-itu..
Aku
harap cuman pikiran halusinasiku saja..
Semoga
memang bukan…
***********
(Jika fikiran ini gila, maka logika memang tidak bermain sampai sejauh ini, jika datang dan menghampiriku, maka aku bersumpah akan benar-benar pergi dari cerita ini selamanya)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar